Ramadhan: Bulan Penerapan Al Quran

by Admin BKLDK

Oleh: Afif Sholahudin (BE BKLDK Jawa Barat)

Yang istimewa dari Bulan Ramadhan adalah Al Quran, disamping terdapat keistimewaan lainnya di bulan penuh kemuliaan. Namun sadari bahwa ada keutamaan yang tidak didapatkan di bulan-bulan lainnya selain Ramadhan, yakni terdapat malam Lailatur Qadr sebagai malam turunnya Al Quran. Yang membuat istimewa adalah apa yang diturunkan mulia sehingga membuat bulan nya pun menjadi mulia. Sebagaimana Firman Allah SWT:

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah…” (QS. Al Baqarah: 185)

Keutamaan yang dihadirkan pada bulan ini terkadang bisa kita dapatkan dari bulan lainnya, meskipun berbeda derajatnya. Seandainya puasa ramadhan untuk menahan hawa nafsu, maka di bulan lainnya terdapat puasa yang bahkan bisa lebih banyak jumlahnya daripada bulan Ramadhan, misalkan puasa daud.

Atau karena di bulan Ramadhan akan dihapuskan dosa-dosa, dilipatgandakan pahala. Sekalipun dua aspek ini lebih utama berada di Bulan Ramadhan, bukan berarti Allah tidak menjanjikan peluang serupa di bulan lainnya. Lalu bagaimana dengan keutamaan diturunkannya Al Quran? Jelas hanya di Bulan Ramadhan Allah SWT laksanakan keistimewaan itu.

Al-Quran merupakan petunjuk, jalan yang mampu menyelamatkan siapa saja yang mengikutinya dan menyesatkan siapa saja yang menyimpang darinya. Sebab Al-Quran diturunkan sebagai pembeda antara yang haq dan bathil, membedakan kebenaran dan kesesatan.

Namun sungguh sangat menyedihkan, melihat realitas umat saat ini tidak menjadikan Al Quran sebagai petunjuk utama dalam mengatur masyarakat. Al Quran hanya sebatas dibaca, hanya sebatas dihafal, hanya sebatas dipelajari, belum sampai pada pengamalan yang hakiki tegak di tengah-tengah masyarakat.

Mengapa Al Quran tidak tegak dalam peraturan masyarakat, padahal aspek lain dari Al Quran masih terlihat? Jawabannya, karena institusi yang mewadahinya sudah ada, sedangkan istitusi yang menegakkannya belum ada. Sudah banyak institusi yang membiasakan santrinya menghafal Al Quran, sudah banyak lembaga yang mengajarkan muridnya mempelajari Al Quran.

Ketika berbicara penerapan Al Quran maka hal itu membutuhkan institusi pula yang sama dibutuhkan untuk bisa direalisasikan sebagaimana Al Quran dibaca, dihafal, dan dikaji hingga saat ini masih tumbuh di masyarakat. Hanya saja kalau berkaitan dengan institusi penerapan Al Quran akan berhubungan dengan peran negara sebagai institusi pengatur masyarakat.

Tingkatan Mengimani Al Quran

Ramadhan mulia karena turunnya Al Quran. Bangsa Arab dulunya rendah lalu mulia karena Al Quran. Demikian pernah dikatakan oleh Umar r.a, “Kita dahulu adalah umat terhina, Allah muliakan kita dengan Islam.” Begitupun manusia akan mulia dan tinggi derajatnya jika dekat dengan Al Quran. kemuliaan tertinggi saat menjadikan Al Quran lebih dihormati pada tingkat keimanan yang lebih baik dari sekedar dibaca.

Benarlah bahwa membaca Al Quran adalah kebaikan yang besar, dilipatgandakan setiap hurufnya, dan menjadi pahala yang diwariskan jika ada yang menyimak kebaikannya. Yang menghafalnya dihadiahkan surga tertinggi setingkat hafalannya. Sudahkah cukup dalam mengimani Al Quran? Rupanya belum.

Tidak cukup membaca dan menghafalnya, namun juga harus mentadabburinya. Tadabbur dalam artian merenungkan, memikirkan, menghayati, sehingga tujuannya dapat menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Kekhawatiran Rasulullah SAW jika suatu saat kondisi umat-Nya sebagaimana digambarkan dalam Surat Muhammad ayat 24, bahwa mereka telah terkunci hatinya, karena tidak mentadabburi Al Quran.

Selain harus mentadabburi, Al Quran harus diamalkan. Sebagaimana Firman-Nya, “..Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An Nahl: 89)

Yang terbaik tidak cukup sampai mengamalkan, karena kebaikan itu bisa bertambah jika Al Quran kita ajarkan dan dakwahkan. Karena berdasarkan Hadits Rasul SAW, “Orang yang paling baik di antara kalian adalah seorang yang belajar Al Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sudah cukup? Belum. Mendakwahkan belum sampai pada sikap tertinggi menghormati Al Quran, karena sempurnanya memuliakan Al Quran jika ditegakkan sebagai pembuat dan pengatur hukum bagi manusia. Sebagaimana Firman-Nya:

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa: 65)

Al-Quran menjadi petunjuk hidup manusia karena menjelaskan segala sesuatu. Setiap masalah pasti ada hukumnya, dan setiap waktu pasti ada berbagai macam masalahnya. Namun demikian, perbuatan seseorang tidak bisa lepas dari keterikatan hukum syariah. Maka jadikan hidup kita sempurna dengan menghiasi segala aturan oleh aturan Islam yang sempurna. Sebagaimana Firman-Nya:

“…Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu…” (QS. Al Maidah: 3)

Mulia dan Hina Karena Al Quran

Jika bulan mulia ini membuat kita menjadi intimewa, tidak lain karena Al Quran. begitupun sebaliknya, saat umat ini meninggalkan Al Quran maka secara tidak langsung mengarah kepada umat yang hina. Tidak bagi mereka yang terus menjaga Al Quran, membela kesuciannya, dan menegakkan setiap hukumnya.

Pelecehan Al Quran bisa terjadi baik secara verbal maupun non verbal. Ada yang menghina dengan menginjak dan membakarnya, atau membacanya dengan candaan dan tawa. Ini adalah bentuk pelecehan yang terjadi secara verbal. Terkadang kasus seperti ini pun terjadi berulang karena hukum yang tidak memberikan efek jera bagi calon pelaku lainnya.

Pelecehan Al Quran yang dilakukan secara non verbal tidak lain ketika manusia tahu makna Al Quran untuk dijadikan sebagai pedoman dan aturan namun berpaling dari Al Quran. ada para hakim yang disumpah menggunakan Al Quran namun tidak mau menggunakan hukum Quran sebagai sumber hukum bagi perkara yang diadilinya. Di luar jadikan simbol, namun isinya jauh dari pelaksanaan Al Quran, ini bentuk ketidakhormatan yang nyata.

Saatnya Ramadhan kali ini menjadikan refleksi bagi kita, arti Al Quran dalam kehidupan adalah kemuliaan saat diterapkan. Menghidupkan Ramadhan dengan menghidupak Al Quran, hidup agar terlihat bagaimana Islam mengatur hubungan manusia, alam semesta, dan kehidupan, baik sebelum dan sesudah penciptaan segalanya.

Wallahu a’lam bisshowab

Related Posts

Leave a Comment