Corona : Antara Musayyar atau Mukhayyar?

by Admin BKLDK

Pandemi Covid-19 ini memang tidak bisa disepelekan. Berbagai Negara di dunia bahkan telah melakukan tindakan Lock Down (penghentian seluruh akses) mulai dari Negara asalnya, Tiongkok, Italia, bahkan tetangga kita, Malaysia. Langkah ini diambil oleh berbagai Negara berdasarkan analisis WHO dan fakta kasus Covid-19 yang menimpa Negara mereka.

Lalu, bagaimana seorang muslim menyikapinya?

Manusia tidak sepenuhnya memiliki kemampuan untuk mengatur dan menguasai perbuatan dirinya. Ada lingkaran-lingkaran tertentu yang hanya bisa kita pasrah karena memang kuasaNya.

Dalam pembahasan perbuatan manusia, setidaknya hanya ada dua penjelasan yang tepat.

Pertama, Mukhayyarun. Lingkarang dimana manusia bebas berbuat berdasarkan pilihannya sendiri. Ia tidak dipaksa oleh Allah Subhanahu w Ta’ala.

Dalam lingkaran ini, manusia diberi pilihan, bila melakukannya sesuai syariat maka akan berbuah pahala dan mengantarnya ke SurgaNya Allah. Namun bila tidak sesuai syariatNya, maka akan berbuah dosa dan mengantarkannya ke neraka. Mudahnya, lingkaran ini akan dihisab oleh Allah.

Kedua, Musayyarun. Sebuah lingkaran perbuatan yang manusia tidak bebas berbuat. Ia dipaksa oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lingkaran ini dibagi dua, sesuai sunnatullah dan tidak sesuai sunnatullah.
Sesuai sunnatullah contohnya adalah kita lahir dari orang tua siapa, berjenis kelamin apa, memiliki warna rambut apa, dll. Yang tidak sesuai sunnatullah, contohnya bila kita sudah berhati-hati dalam berkendara, tetiba jatuh dan menabrak orang hingga sakit. Keduanya sama-sama tidak dihisab oleh Allah.

Nah, melihat dan mendengar ada pandemic Covid-19 ini, bagaimana sikap kita?

Tentu, kita memiliki lingkaran yang bisa kita kuasai, mengambil pilihan terbaik agar tidak mendapatkan keburukan. Kita punya ikhtiar yang bisa dilakukan, seperti self-isolation, menjaga jarak dengan orang yang sakit, pola hidup sehat, dan selalu menjaga kebersihan tangan dan seluruh tubuh. Berdoa dan taqarrub ilallah juga salah satu ikhtiar kita.

Namun apabila dengan ikhtiar yang sudah dilakukan, masih ada hal yang diluar kehendak kita, berarti itu ranah Allah dan kita harus terus menerus berikhtiar sesuai kemampuan kita.
Semoga Allah selalu lindungi hambaNya yang senantiasa dalam kebaikan dan jalan dakwah Islam.

Wallahu a’lam bi ash Shawaab.

Oleh : Muhammad Naufal Syafiq Nooruzzaman (Ketua BE BKLDK D.I. YOGYAKARTA)

Related Posts

Leave a Comment