Hukum Kanzul Maal (Menimbun Harta)

by Admin BKLDK

Tanya :

Ustadz, afwan mau bertanya larangan menimbun harta (kanzul maal), apakah sebatas harta emas dan perak, atau sebagai mata uang? (Farid Wadjdi, Bogor)

Jawab :

Menimbun harta (kanzul maal) haram hukumnya berdasarkan firman Allah SWT (yang artinya),”Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (QS At Taubah [9] : 34).

Imam Taqiyuddin An Nabhani menafsirkan ayat di atas dengan berkata,”Ketika turun ayat yang melarang menimbun emas dan perak, saat itu emas dan perak adalah alat tukar dan standar untuk menilai pekerjaan dan manfaat pada harta, baik yang tercetak seperti koin dinar dan dirham, maupun yang tidak tercetak seperti emas atau perak batangan. Jadi larangan yang ada lebih tertuju pada emas dan perak sebagai alat tukar.” (Taqiyuddin An Nabhani, Al Nizham Al Iqtishadi fi Al Islam, hlm. 251).

Berdasarkan itu, jelaslah larangan menimbun harta (kanzul maal) tidak hanya berlaku untuk emas dan perak saja, melainkan juga termasuk semua jenis mata uang (an nuquud). (Taqiyuddin An Nabhani, Al Nizham Al Iqtishadi fi Al Islam, hlm. 250-251).

Secara lebih detail, menurut Imam Taqiyuddin An Nabhani, larangan menimbun harta (kanzul maal) meliputi 3 (tiga) macam penyimpanan harta sbb;

Pertama, menyimpan emas dan perak secara umum, baik yang dicetak sebagai uang seperti koin dinar atau dinar, maupun yang tidak dicetak sebagai uang, seperti emas batangan, baik dikeluarkan zakatnya maupun tidak dikeluarkan zakatnya. Inilah pendapat yang dipilih oleh Imam Taqiyuddin An Nabhani, berbeda dengan pendapat ulama lain yang membolehkan menyimpan emas dan perak jika dikeluarkan zakatnya. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 2/346-348).

Dalilnya hadits dari Abu Umamah RA, bahwa ada seorang laki-laki dari Ahlus Shuffah yang meninggal, ternyata dia menyimpan uang 1 dinar di sarungnya. Nabi SAW bersabda,”Ini sepotong api neraka (kayyah).” Lalu meninggal laki-laki lain dan ternyata dia menyimpan 2 dinar di sarungnya. Nabi SAW pun bersabda,”Ini dua potong api neraka (kayyataani).” (HR Ahmad, dengan isnad yang sahih). Hadits ini menunjukkan haramnya menyimpan dinar dan dirham secara mutlak, baik yang belum mencapai nishab (di bawah 20 dinar atau 200 dirham) maupun yang sudah mencapai nishab. (Taqiyuddin An Nabhani, Muqaddimat Al Dustuur, 2/77).

Kedua, menyimpan emas dan perak yang berupa perhiasan (al hulli), seperti kalung atau cincin dari emas/perak. Hanya saja ada hukum khusus untuk emas atau perak yang berbentuk perhiasan ini, yaitu jika tidak dikeluarkan zakatnya (ketika telah memenuhi kriteria nishab dan haul), hukumnya haram. Adapun jika dikeluarkan zakatnya, menyimpannya tidak berdosa. (Taqiyuddin An Nabhani, Muqaddimat Al Dustuur, 2/80; Abdul Qadim Zallum, Al Amwal fi Daulat Al Khilafah, hlm. 167-168).

Ketiga, semua jenis mata uang (an nuquud) yang berfungsi sebagai alat tukar, baik dikeluarkan zakatnya maupun tidak. (Taqiyuddin An Nabhani, Al Nizham Al Iqtishadi fi Al Islam, hlm. 251).

Hanya saja, perlu dipahami yang dimaksud menimbun harta yang diharamkan adalah menyimpan harta tanpa suatu hajat. Adapun jika menyimpan harta karena ada suatu hajat masa depan, hukumnya boleh, asalkan dikeluarkan zakatnya jika sudah memenuhi kriteria nishab dan haul. Menyimpan harta untuk suatu hajat masa depan itu disebut dengan al iddikhaar (menabung, saving), misalnya untuk dijadikan mahar nikah, atau akan digunakan naik haji, atau akan dijadikan modal usaha, dsb. (Taqiyuddin An Nabhani, Al Nizham Al Iqtishadi fi Al Islam, hlm. 251; Ibrahim Abdul Lathif Al ‘Ubaidi, Al Iddikhaar Masyruu’iyyatuhu wa Tsamaraatuhu, hlm. 18). Wallahu a’lam.

Diasuh Oleh: Ust M Shiddiq Al Jawi

Related Posts

3 comments

Linda 28 Juli 2017 - 2:56 am

Neque porro quisquam est, qui dolorem ipsum quia dolor sit amet, consectetur, adipisci velit, sed quia non numquam eius modi tempora incidunt ut labore.

Reply
Linda 28 Juli 2017 - 2:56 am

Quis autem vel eum iure reprehenderit qui in ea voluptate velit esse quam nihil.

Reply
Linda 28 Juli 2017 - 2:56 am

Et harum quidem rerum facilis est et expedita distinctio. Nam libero tempore, cum soluta nobis est eligendi optio cumque nihil impedit quo minus id quod maxime placeat facere.

Reply

Leave a Comment