Fenomena intoleransi keberagamaan terhadap karyawan muslim
January 1, 2017
Kongres Mahasiswa Islam Indonesia 2009
January 2, 2017
Show all

Sekulerisme Masih Menjadi Momok Bagi Indonesia

Sebagai negara yang memiliki letak geografis paling strategis di dunia, memiliki kandungan SDA yang berkualitas, serta memiliki jumlah penduduk yang produktif, membuat Indonesia menjadi negara yang paling disorot dunia. Negara barat maupun timur memiliki keinginan yang sama untuk bercokol di negeri ini. Atas nama investasi dan perdagangan dunia arus penjajahan mulai masuk satu demi satu.

            Era kepemimpinan Joko Widodo dan Jusuf Kalla menjadi surga bagi asing dan aseng untuk mengeruk kekayaan Indonesia. Terbukti dalam bidang ekonomi -tak lama berselang dari pelantikannya-, Jokowi membuka keran lebar-lebar bagi para investor untuk ikut andil dalam pembangunan infrastruktur dalam negeri. China sebagai negara pemodal terbesar mendapat jatah pembangunan infratruktur terbanyak. Setidaknya ada lima megaproyek infrastruktur yang dimenangkan oleh China, diantaranya: pembangunan 24 pelabuhan, 15 bandar udara, pembangunan jalan kereta api sepanjang 8.700 Km, proyek pembangkit listrik hidro, dan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

            Di bidang politik, carut-marut di tubuh pemerintah makin terlihat. Seringnya terjadi reshuffle kabinet memunculkan pertanyaan besar bagi masyarakat, untuk apa dan siapa reshuffle ini dilakukan? Dalam buletin al-Islam yang diedarkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (03/07) yang berjudul Reshuffle Kabinet Bukan untuk Kepentingan Rakyat, ada beberapa point yang menyebabkan adanya reshuffle kabinet dilakukan, diantaranya: memuluskan kepentingan barat melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani. Sri Mulyani dianggap sebagai sosok yang tepat untuk menyelamatkan berbagai kepentingan barat di bidang minerba dan keuangan. Di sektor kemaritiman pergantian dari menteri Rizal Ramli menjadi Luhut B Panjaitan membuat megaproyek reklamasi yang sempat tersendat akhirnya berjalan kembali. Adapun terkait konsolidasi politik, Reshuffle kali ini juga sekaligus mengokohkan konsolidasi politik rezim Jokowi. Awalnya rezim Jokowi hanya didukung 37% suara di DPR (PDIP, Hanura, Nasdem dan PKB). Sebaliknya, saat itu Koalisis Merah Putih (KMP) menguasai 52%. Sisanya 11% Demokrat memilih netral. Namun, setelah pada Oktober 2015 PAN membelot, disusul PPP dan terakhir Golkar, dukungan terhadap rezim Jokowi-JK di DPR menjadi 386 suara (69%). KMP tinggal tersisa Gerindra dan PKS dengan 113 suara (20 persen). Adapun Partai Demokrat tetap berposisi netral, dengan 61 kursi (11 persen).

            Sementara di bidang Hukum, adanya kasus penistaan agama yang kian marak di media sosial dan nyata, membuktikan lemahnya peran negara dalam menjaga kerukunan umat beragama. Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 156 dan 156a tentang Penodaan Agama tidak mampu memayungi keragaman antara umat beragama. Terakhir kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki T Purnama alias Ahok menimbulkan gejolak politik yang sangat panas hingga berdampak pada aksi besar tanggal 11 November dan 2 Desember.

            Sederat kasus-kasus tersebut menandakan Indonesia tidak berada pada kondisi yang baik. Indonesia justru berapa pada puncak keterpurukannya. Dengan visi-misi Nawacita yang diusung pemerintahan Jokowi-JK yang sampai saat ini belum sepenuhnya terealisasi, mengindikasikan gagalnya peran pemerintah dalam membangun bangsa dan negara. Akhirnya kondisi saat ini tak ubahnya seperti kondisi pada rezim-rezim sebelumnya.

Mencari Akar Masalah

            Tidak bisa dipungkiri dengan asas pemisahan agama dari negara dan kehidupan yang dijadikan sebagai pondasi negeri ini menjadikan Indonesia kian terpuruk. Sekulerisme yang menjadi solusi moderat bagi para founding father tak mampu mewujudkan sebuah negara ideal yang mensejahterkan seluruh element masyarakatnya. Justru sekat sekulerisme menjadikan Indonesia kian carut-marut.

            Konstitusi yang dibangun berdasarkan akal manusia yang terbatas membuat negeri ini selalu dirundung bencana. Pasalnya aturan yang berasal dari Sang Pencipta hanya dijadikan pilihan bukan keutamaan. Padahal dalam Surat al-Baqarah ayat 208-209, Allah berfirman yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (TQS al-Baqarah [2]: 208-209).

            Di sisi lain pengklaiman sebagai negara berideologi Pancasila dengan asas tunggal ketuhanan yang maha esa, patut dipertanyakan. Pasalnya negara sedikit sekali memfasilitasi bagi setiap aturan yang lahir dari nilai tersebut. Padahal dengan asas tunggal ketuhanan yang mahaesa menjadikan aturan-aturan berbasis syariat harus diutamakan dan dijaga. Kasus penghapusan perda syariah di beberapa daerah justru mencoreng nilai ketuhanan dari sila pertama pancasila.

            Kini terbukti sekulerisme menjadi momok bagi Indonesia. Sekulerisme menjadi pangkal dari setiap musibah yang datang. Pengerukan SDA tanpa batas, korupsi yang merajalela, liberalisme gaya hidup, hingga penistaan agama atas nama toleransi mengukuhkan paham tersebut sebagai racun dalam tubuh umat. Maka kehadiran Islam sebagai pengganti sekulerisme amat sangat dibutuhkan dan dinantikan. Islam yang hadir sebagai pandangan hidup akan menjawab problematika yang terjadi.

            Namun kehadiran Islam yang hanya sebatas agama tanpa negara akan menghasilkan kesia-siaan dalam perjuangannya. Maka perwujudan dari nilai tertinggi penerapan Islam sebagai pandangan hidup adalah dengan adanya negara atau daulah. Negara inilah yang akan menjadi jalan bagi penerapan Islam kaffah. Dan negara tersebut adalah Khilafah. Tentu khilafah yang dimaksud bukanlah khilafah yang tegak berdiri atas dasar pemberontakan berdarah melainkan berdiri sesuai manhaj kenabian. Sehingga khilafah ini menjadi khilafah yang diberkahi dan penyelamat bagi umat muslim seluruhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *