Diskursus Khilafah di Indonesia, Mengkampanyekan Watak Dialogis Dalam Menyampaikan Pendapat
June 1, 2017
BKLDK Jawa Barat: Perppu Ormas Kebijakan Dzalim dan Merugikan Umat
September 6, 2017
Show all

Kemerdekaan Hakiki

Oleh : Pebriandani Yeryansyah Putra

(Mahasiswa STAI DR. KHEZ Muttaqien, Sekjen BKLDK Purwakarta)

72 tahun sudah bangsa ini merdeka. Banyak hal yang telah dilalui oleh bangsa ini disepanjang usianya. Namun, perlu kiranya kita untuk kembali merenung dan meresapi tentang arti kemerdekaan sesungguhnya dari bangsa ini. Benarkah kita sudah merdeka?

Kita masih terjajah

Indonesia adalah negara kaya dengan beribu potensi sumber daya alam didalamnya. Namun kekayaan SDA tersebut ternyata bukan milik bangsa dan rakyat ini. Tengok saja pengelolaan SDA di Indonesia kini lebih di dominasi oleh perusahaan-perusahaan Asing. Sebut saja PT Chevron, British Petroleum, Freeport, Shell, Petronas, dan masih banyak lagi perusahaan-perusahaan asing yang mengelola sumber daya alam Indonesia dan meraup keuntungan besar di dalamnya. Jelas hal ini bertentangan dengan amanah UUD 1945 yang dengan gamblang menyatakan di dalam pasal 33 bahwa sumber daya yang menguasai hajat hidup orang banyak harus dikuasai negara dan sebesar-besarnya dikelola untuk kesejahteraan rakyat.

Pengelolaan SDA yang keliru ini akhirnya berdampak kepada kesejahteraan masyarakat. 72 tahun bangsa ini merdeka, kemiskinan masih menjadi momok yang besar dan tugas yang berat bagi para pemimpin-pemimpin bangsa. Cengkraman kapitalisme terhadap bangsa ini semakin kentara ketika salah satu majalah Nasional Tempo merilis sebuah video, dimana dalam video tersebut dinyatakan 4 kekayaan orang terkaya di Indonesia setara dengan kekayaan seratus juta rakyat Indonesia. Lembaga Oxfam menyatakan, Indonesia masuk dalam enam besar negara dengan tingkat kesenjangan ekonomi tertinggi di dunia. Pada tahun 2016, satu persen orang terkaya memiliki hampir setengah (49 persen) dari total kekayaan populasi (dw.com/23/2/2017).

Ditengah kondisi tersebut, utang luar negeri Indonesia justru semakin meningkat. Bank Indonesia (BI) mengumumkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir triwulan II 2017 tercatat 335,3 miliar dolar AS atau tumbuh sebesar 2,9 persen (tribunnews.com/16/8/2017). Jika satu dolar saat ini setara dengan Rp 13.000 maka total utang luar negeri pemerintah sudah mencapat Rp 4.000 triliun lebih. Tentu hal ini sangat ironis bagi sebuah bangsa besar dengan kekayaan sumber daya yang melimpah namun utang dimana-mana.

Sementara kondisi perekonomian Indonesia memburuk, kondisi moral bangsa pun tidak kalah mengkhawatirkannya. Ramai di media sosial terkait bullying yang diarahkan kepada Bunda Elly Risman. Hal ini bermula dari cuitan beliau yang mengkritik kedatangan girlband asal korea. Generasi muda Indonesia seperti kehilangan arah dan hanyut dalam glamour budaya liberal dan hedonis. Dari data hasil survey KPAI dan Kemenkes pada tahun 2013 memaparkan bahwa sekitar 62,7% remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seks di luar nikah.  20% dari 94.270  perempuan yang mengalami hamil di luar nikah juga berasal dari kelompok usia remaja dan  21%  diantaranya pernah melakukan aborsi.Lalu pada kasus terinfeksi HIV dalam rentang 3 bulan sebanyak 10.203 kasus, 30% penderitanya berusia remaja. Fenomena itu sebenarnya merupakan lanjutan dari begitu banyak kemudahan yang diterima anak-anak, bahkan yang berasal dari para orangtua mereka  sendiri, untuk mengakses konten-konten porno di medsos via gadget yang diperoleh pada usia terlalu dini tanpa dibekali aturan yang tepat dalam penggunaannya. (kompasiana.com)

Dengan demikian maka telah nampak bahwa mungkin bangsa ini telah merdeka dari penjajahan fisik oleh Belanda, Jepang maupun Portugis. Namun pada hakikatnya kita masih terjajah. Kita masih terjajah dari segi ekonomi, pemikiran, dan budaya. Hakikatnya kita belum merdeka secara utuh.

Kemerdekaan Hakiki

Islam sebagai agama yang paripurna dan sempurna telah jauh-jauh hari memberikan solusi bagi berbagai macam persoalan bangsa ini. Dalam hal ekonomi, Islam memiliki sistem ekonomi yang lengkap dan luar biasa bahkan terbukti mampu mensejahterakan rakyatnya. Tengok saja bagaimana sistem ekonomi Islam telah menorehkan tinta emasnya dalam peradaban manusia. Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, di masa kepemimpinannya kesejahteraan telah menaungi seluruh rakyatnya hingga tak ada orang miskin di dalam negaranya. Di sisi lain sistem sosial dan pendidikan dalam Islam pun telah melahirkan generas-generasi khoiru ummah (umat terbaik). Sebut saja Imam Syafii salah seorang Imam besar dari empat mazhab, Muhammad Al-Fatih sang penakluk Konstantinopel, Ibnu Sina bapak kedokteran dunia yang mana bukunya dipakai selama ribuan tahun sebagai pegangan wajib para calon-calon dokter. Dan masih banyak lagi generasi-generasi emas yang dilahirkan dari sistem Islam.

Kemerdekaan hakiki sesungguhnya tercipta ketika manusia tidak lagi meletakkan penghambaan terhadap sesama manusia. Rib’I bin Amir salah seorang panglima Islam menyampaikan jawaban dari pertanyaan panglima Persia Rustum tentang motif apa yang menggerakan kaum muslim. Kemudian beliau menjawab “ Allah telah mengutus kami untuk membebaskan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan terhadap sesama hamba kepada penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dari kedzaliman agama-agama kepada keadilan Islam.”

Inilah makna kemerdekaan, inilah kemerdekaan yang hakiki. Inilah kemerdekaan yang harus terus kita perjuangkan. Tanpa mengesampingkan rasa syukur atas kemerdekaan fisik yang telah Allah berikan kepada kita. Wallahu’alam bi ash-shawab.

Purwakarta, 20 Agustus 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *