Mengenal Abu Bakar Ash-Shiddiq: Sosok Mulia Sahabat Nabi dan Khalifatu Rasulillah SAW

Keren!!! Anggota BKLDK Babel Semuanya Berprestasi.
April 5, 2017
Bersatu Wujudkan Kebangkitan Hakiki di Bumi Pertiwi
May 23, 2017
Show all

Mengenal Abu Bakar Ash-Shiddiq: Sosok Mulia Sahabat Nabi dan Khalifatu Rasulillah SAW

Oleh: Faqih Ahmad
(Aktivis BKLDK Kota Bogor)

Hanya Abu Bakar yang menemani hijrah Rasul. Hanya Abu Bakar yang diminta memimpin shalat saat sakitnya Rasul. Nabi memilih Abu Bakar dalam hijrah dan shalat. Karena dialah yang paling pertama beriman kepada Allah dan RasulNya. Dialah yang paling banyak berkorban. Dia lebih mencintai Allah dan RasulNya, lebih mencintai Islam dan dakwah dari pada dirinya sendiri. Dia paling banyak menyertai Rasul dalam setiap peristiwa. Dialah yang memiiki akhlak yang paling mendekati kesempurnaan.

Abu Bakar sahabat dekat Muhammad. Orang yang paling banyak berhubungan dengan Muhammad. Orang yang paling setia kepada Muhammad. Orang yang paling banyak mengikuti ajaran-ajaran Muhammad. Orang yang sangat ramah dan lembut hati. Abu Bakar adalah orang pertama yang mengantikan Nabi sebagai kepala negara. Dialah yang telah memperkuat Islam kembali saat orang-orang Arab yang murtad mencoba menggoyahkan sendi-sendi Islam. Dialah orang pertama yang meneruskan penerapan Islam dan mengemban Islam ke seluruh dunia yang sebelumnya diawali oleh Muhammad Rasulullah SAW.

Berperawakan kurus, putih, dengan sepasang bahu kecil dan muka lancip dengan mata yang cekung diseratai dahi yang agak menonjol dan urat-urat tangan yang tampak jelas. Begitulah dilukiskan oleh putrinya, ‘Aisyah Ummul Mukminin. Begitu damai perangianya. Sangat lemah lembut dan sikapnya tenang sekali. Tak mudah ia terdorong oleh hawa nafsu. Tersebab sikapnya yang selalu tenang, maka pendangannya selalu jernih dan pikirannya selalu tajam. Banyak kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang tidak diikutinya. ‘Aisyah menyebutkan bahwa ia tidak pernah minum-minuman keras di zaman jahiliyyah atau Islam meskipun penduduk Mekah umumnya sudah begitu hanyut ke dalam khamr dan mabuk-mabukkan.

Ia seorang ahli genealogi (ahli silsilah). Bicaranya sedap dan pandai bergaul. Seperi dilukiskan oleh Ibn Hisyam, penulis kitab sirah, “Abu Bakar adalah laki-laki yang akrab di kalangan masyarakatnya, disukai karena ia serba mudah. Ia dari keluarga Quraisy yang paling dekat dan paling banyak mengetahui seluk-beluk kabilah itu, yang baik dan yang jahat. Ia seorang pedagang dengan perangai yang sudah cukup terkenal. Karena suatu masalah, pemuka-pemuka masyarakatnya sering datang menemuinya, mungkin karena pengetahuannya, karena perdagangannya atau mungkin juga karena cara bergaulnya yang enak.”

Di Balik Kelembutannya Terdapat Kekuatan yang Dahsyat

Laki-laki yang begitu rendah hati itu. Begitu mudah terharu. Begitu halus perasaannya. Bergaul dengan orang-orang papa. Bergaul dengan mereka yang lemah. Namun, sejatinya dalam dirinya terkandung kekuatan yang dahsyat. Dengan kemampuan yang luar biasa, dia membina para tokoh serta menampilkan posisi dan bakat potensi mereka. Dia tak kenal ragu, pantang mundur. Dia mendorong mereka terjun ke dalam medan dakwah dan perjuangan. Menyalurkan segala kekuatan dengan kemampuan yang telah diberikan Allah kepada mereka.

Lihatlah bagaimana perannya pada masa kenabian. Saat orang-orang Quraisy begitu hebat memusuhi dan menganggu Rasul, ketika terjadi peristiwa Isra Mi’raj, ketika hijrah dan dalam menghadapi intrik-intrik orang-orang Yahudi di Madinah. Peristiwa-peristiwa itu saja cukup sudah menjadikan namanya dicatatkan dalam sebuah catatan yang abadi. Kebesaran Abu Bakar adalah kebesaran tanpa suara. Kebesaran yang tak mau bicara tentang dirinya. Kebesaran Abu Bakar adalah kebesaran jiwa. Kebesaran iman kepada Allah dan kepada risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Peristiwa-peristiwa yang dia hadapi dan lalui menjadi saksi akan pendapatnya yang tepat dan pandangannya yang jauh. Perintah penyerbuan Irak dan Syams yang dia instruksikan didasari atas keyakinan bahwa Allah akan selalu memberIkan bantuan dan pertolonganNya. Oleh karenanya ia berpesan kepada setiap pimpinan pasukan dan seluruh tentara agar tetap berpegang teguh pada hukum-hukum Allah dan RasulNya dan jangan menyimpang sedikitpun. Masa kepemimpinanya memang singkat, namun dampaknya amat besar bagi Islam dan kaum muslimin.

Abu Bakar dapat menghadapi segala kesulitan pada permulaan ia memegang pimpinan dan dia tetap bertahan dan dapat mengatasinya. Sesudah itu pula, mulai ia melanjutkan penyebaran Islam, yang sebelumnya telah dilakukan Rasul, dan berhasil secara gemilang. Semua keberhasilannya itu tentu dipengaruhi besar oleh sifat pribadinya. Tetapi sifat-sifat itu saja tidak akan sampai ke tingkat yang sudah dicapainya itu kalau tidak karena persahabatannya dengan Rasulullah selama dua puluh tahun penuh itu.

Kebesaran Abu Bakar pada masa menjadi khalifah itu erat sekali hubungannya dengan persahabatannya bersama Rasulullah SAW. Selama persahabatannya itu ia telah menghirup jiwa risalah yang dibawa oleh Muhammad. Ia sepunuhnya mengerti maksud dan tujuannya. Mengerti secara akal dan hati. Tidak dikacaukan oleh adanya kesalahan dan keraguan.

Apa yang telah dihirup dan dipahami dengan akal dan hatinya itu ialah bahwa iman (akidah) adalah suatu kekuatan yang tak akan dapat dikalahkan oleh siapapun. Selama iman tertancap dengan kuat di dalam diri seorang mukmin, maka selama itu pula seorang mukmin dapat menjauhkan diri dari setiap kebathilan. Selama itu pula seorang mukmin akan selalu mencari dan berada dalam kebenaran demi kebenaran semata. Dengan matanya Abu Bakar sungguh telah melihat bulat-bulat kehidupan Rasul dan benar-benar telah hidup bersama Rasul juga hidup bersama akidah serta risalah Islam yang dibawa oleh Beliau SAW.

Akidah yang Mengokohkannya, Teladan yang Mengilhaminya

Iman yang sungguh-sungguh demi kebenaran itulah yang membuatnya menentang sahabat-sahabatnya dalam soal menghadapi golongan murtad waktu itu. Abu Bakar bersikeras hendak memerangi mereka meskipun harus pergi sendiri. Sikapnya itu ia lakukan karena ia memahami bahwa segerombolan orang-orang murtad itu telah jelas-jelas melakukan perbuatan yang sangat berat konsekuensinya di Allah SWT dan RasulNya.

Di samping itu, jika mereka dibiarkan tanpa tindakan yang berat dan tegas, maka perbuatan mereka akan menjadi virus yang menyebabkan orang-orang lain mengikuti mereka dan suasana masyarakat serta negara menjadi tidak kondusif. Lebih dari itu sikap yang ia lakukan tersebut adalah cermin dari bentuk meneladani apa yang telah Rasullullah SAW perlihatkan kepadanya.

Ia telah menyaksikan sendiri, bagaimana Nabi berdiri seorang diri mengajak orang-orang di Mekkah ke jalan Allah, tapi mereka ramai-ramai menentangnya. Lalu Beliau dibujuk dengan harta, dengan kekuasaan dan kedudukan tinggi. Kemudian Beliau pun diperangi dengan maksud hendak membendungnya dari kebenaran yang dibawanya itu.

Sungguh semua itu tidak memalingkan apalagi menghentikannya, malah Beliau SAW menjawab, “Demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku meninggalkan tugas ini, sungguh tidak akan kutinggalkan. Biarlah nanti Allah akan membuktikan kemenangan itu di tanganku atau aku binasa karenanya! Sungguh tidak akan kutinggalkan!”

Alangkah indahnya teladan ini. Teladan yang telah mengilhami orang bahwa iman adalah suatu kekuatan yang tak akan dapat dikalahkan oleh siapapun. Selama seorang mukmin memiliki keimanan yang benar tentang agamanya, maka selama itu pula kehidupannya tidak akan melenceng.

Selama iman tertancap dengan kuat dalam diri seorang mukmin, maka selama itu pula ia akan selalu berada di atas jalan kebenaran! Inilah kekuatan aqidah, yang dalam hidup ini tak ada yang dapat menguasainya. Inilah kekuatan akidah yang tiada kenal lemah atau ragu. Inilah kekuatan akidah tak akan ada yang dapat mengalahkannya.

Sebaliknya, kekuatan akidah ini selalu diberikan pertolongan dan kemenangan oleh Allah SWT, sebagaimana apa yang telah nampak pada diri dan perjalanan hidup Rasulullah SAW dan sahabat setia nan mulia sekaligus khalifatu Rasulillah SAW yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahuanhu ini dan generasi emas umat Islam dahulu.

Maka, generasi umat Islam saat ini pun semestinya menggunakan kekuatan akidah itu, sehingga mereka bisa mendapatkan kemenangan dan pertolonganNya dan mampu melanjutkan kehidupan Islam dan masa-masa keemasan Islam dan kaum muslimin, sebagaimana dahulu, di bawah naungan akidah Islam yang diterapkan secara nyata dalam seluruh aspek kehidupan umat manusia. []

Daftar Bacaan:
Syeikh Muhammad Husain Haekal, Abu Bakar Ash-Shiddiq: Sebuah Biografi dan Studi Analisis Tentang Permulaan Sejarah Islam Sepeninggal Nabi, Jakarta: PT. Pustako Utera AntarNusa, Cetakan ke tiga: 2003.

==============================
Like & Share official sosmed BKLDK Nasional

https://www.facebook.com/BKLDKNasional/
https://instagram.com/bkldknasional/
https://twitter.com/bkldknas/

Home


https://dakwahkampus.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *