Bersatu Wujudkan Kebangkitan Hakiki di Bumi Pertiwi

Mengenal Abu Bakar Ash-Shiddiq: Sosok Mulia Sahabat Nabi dan Khalifatu Rasulillah SAW
May 23, 2017
Diskursus Khilafah di Indonesia, Mengkampanyekan Watak Dialogis Dalam Menyampaikan Pendapat
June 1, 2017
Show all

Bersatu Wujudkan Kebangkitan Hakiki di Bumi Pertiwi

Oleh : Tatang Hidayat
Ketua Badan Eksekutif Korda BKLDK Kota Bandung

Tanggal 20 Mei selalu diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, meskipun masih ada kerancuan terkait penetapan hari kebangkitan nasional tersebut, sebagaimana dijelaskan Prof. Dr. Ahmad Mansyur Suryanegara dalam bukunya Api Sejarah 1 dan 2. Dipilihnya tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sesungguhnya merupakan suatu penghinaan terhadap esensi perjuangan merebut kemerdekaan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Islam khususnya para Ulama dan Santri oleh para penguasa sekuler. Karena organisasi Syarikat Islam (SI) yang lahir terlebih dahulu dari Boedhi Oetomo (BO), yakni pada tahun 1905, yang jelas-jelas bersifat nasional, menentang penjajah Belanda, dan mencita-citakan Indonesia merdeka, tidak dijadikan tonggak kebangkitan nasional.

Sejarah telah mengalami deislamisasi, seolah-olah meniadakan peran ummat Islam dalam memimpin pergerakan nasional. Padahal jika kita melihat, justru para Ulama dan Santrilah yang selalu memimpin pergerakan nasional dalam memperjuangkan kemerdekaan negeri ini. Seharusnya kita merenungi setiap diperingatinya hari kebangkitan nasional, bukan hanya diperingati tiap tahun tetapi tidak memberikan kesan yang berarti. Indonesia sudah melewai 72 tahun sejak kemerdekaannya, tetapi apakah negeri ini sudah bangkit dan lepas dari segala penjajahan?

Jika kita melihat realitas Indonesia saat ini, tentu kita akan menemukan berbagai peristiwa yang selalu mewarnai Indonesia saat ini. Mulai dari tingginya angka kemiskinan, kerusuhan, kriminal, pembunuhan, kenakalan remaja, perzinahan, prostitusi, bahkan ternyata Indonesia masih di jajah, salah satunya dari segi ekonomi, Indonesia sudah dijajah oleh Kapitalisme Global.

Dijelaskan oleh anggota MPR, Ahmad Basarah, di depan peserta Training of Trainers 4 Pilar di lingkungan TNI dan Polri di Bandung, mengatakan bahwa bangsa ini secara ekonomi sudah dijajah oleh kapitalisme global. ia mengatakan bahwa tak hanya dalam soal kepemimpinan yang sudah terkontaminasi unsur kapitalisme namun saat ini juga ada sekitar 173 undang-undang yang berpihak pada asing dan tak sesuai dengan Pancasila (reportaseindonesia.com, 29/8/2015).
Ahmad Basarah mengutip apa yang pernah disampaikan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo bahwa sekarang kita sedang melakukan peperangan namun bukan peperangan konvensional tapi perang modern. Perang modern, menurutnya, lebih canggih dibandingkan perang konvensional karena dampaknya lebih dahsyat. Dalam perang modern tak ada pangkalan dan tentara asing di Indonesia namun yang ada adalah pangkalan mental asing.”Pangkalan mental asing itulah yang akan menghancurkan nilai-nilai luhur bangsa,” ujarnya. (reportaseindonesia.com, 29/8/2015).

Saat ini Indonesia sudah dikurung oleh 13 pangkalan militer Amerika Serikat, Indonesia sama juga “sudah terkurung” seperti Irak, oleh pangkalan-pangkalan AS yang berada di Christmas Island, Cocos Island, Darwin, Guam, Philippina, Malaysia, Singapore, Vietnam hingga kepulauan Andaman dan Nicobar beserta sejumlah tempat lainnya.” Connie Rahakundini Bakrie, pengamat Pertahanan dan Militer dari Universitas Indonesia. Jakarta (Garuda Militer 14/12/2012).

Belum lagi masalah yang ada di sebelah timur Indonesia, Organisasi Papua Merdeka (OPM) terus merongrong ingin memisahkan diri dari Indonesia. rangkaian kejadian pada 1 Desember yang selalu diperingati sebagian orang asli Papua sebagai hari Kemerdekaan Bangsa Papua disikapi legislator Papua, Lawrenzus kadepa. Katanya, ia kesal momen 1 Desember tahun ini ada nyawa yang melayang (Tabloidjibu.com (2/12/2015).

Tingkat korupsi di Indonesiapun masih tinggi, korupsi di Indonesia semakin merajalela. Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai, ada beberapa faktor yang membuat korupsi di Indonesia terasa malah semakin banyak hingga ke berbagai pejabat lintas tingkatan. Pertama, objek korupsi yang biasa dilakukan di Indonesia adalah anggaran, baik APBN maupun APBD. Kemudian, nilai anggaran setiap tahunnya pun semakin besar (liputan6.com 12/5/2016).
Hari kebangkitan nasional yang selalu diperingati setiap tahun tidak memberikan kesan yang sangat berarti untuk kebangkitan Indonesia. Hari-hari yang dilalui semakin menambah tetesan air mata di bumi pertiwi ini, jelas kita masih dijajah, kebijakan ekonomi masih merujuk pada Kapitalisme, tragisnya, hukum kita pun masih didominasi oleh hukum-hukum kolonial. Akibatnya kemiskinan menjadi “penyakit” umum rakyat. Negara pun gagal membebaskan rakyatnya dari kebodohan. Rakyat juga masih belum aman. Pembunuhan, penganiyaan, pemerkosaan, pencabulan, dan kriminalitas menjadi menu harian rakyat negeri ini. bukan hanya tak aman dari sesama, rakyat pun tak aman dari penguasa mereka.

Hubungan rakyat dan penguasa bagaikan antar musuh. Tanah rakyat digusur atas nama pembangunan. Pedagang kaki lima digusur disana-sini dengan alasan penertiban. Pengusaha tak aman dengan banyaknya kutipan liar dan kewajiban suap di sana-sini. Para Ulama dan aktivis Islam juga tak aman menyerukan kebenaran Islam, mereka bisa ‘diculik’ aparat kapan saja dan dituduh sebagai teroris, sering tanpa alasan yang jelas.  Karena itu, kunci agar kita benar-benar bangkit dari penjajahan non-fisik saat ini yang menimpa bumi pertiwi adalah dengan bersatu mewujudkan kebangkitan dengan melepaskan diri dari : (1) Sistem Kapitalisme-Sekuler dalam segala bidang; (2) para penguasa dan politisi yang menjadi kaki tangan negara-negara kapitalis. Selanjutnya kita harus bersatu untuk mewujudkan kebangkitan hakiki.

Kebangkitan yang hakiki merupakan kebangkitan yang di mulai dari bangkitnya pemikiran,  kebangkitan tersebut telah di contohkan oleh Rasulullah Saw kepada para sahabatnya. Orang-orang Qurasy Makkah yang awalnya merupakan bangsa jahiliah, tetapi setelah mendapatkan dakwah Rasulullah Saw bisa menjadi bangsa yang menguasai dunia. Orang-orang Quraisy telah mendapatkan kebangkitan yang hakiki, yakni kebangkitan yang diawali dengan bangkitnya pemikiran, sehingga orang-orang Quraisy memiliki ketinggian taraf berfikir. Kebangkitan tersebut telah di akui di dunia Barat dengan terwujudnya Peradaban Islam yakni peradaban terbesar di dunia.  Peradaban Islam sanggup menciptakan negara adi daya dunia (superstate) terbentang dari satu samudera ke samudera yang lain; dari iklim utara hingga tropis dengan ratusan juta orang di dalamnya, dengan perbedaan kepercayaan dan suku (Carleton : “ Technology, Business, and Our Way of Life: What Next).

Peradaban Islam telah memberikan rahmat bagi seluruh alam, Maha Benar Allah SWT Yang berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad saw.) melainkan agar menjadi rahmat bagi alam semesta (QS al-Anbiya’ [21]: 107).

Menurut Kurnia (2002, hlm. 5) pengertian rahmatan lil ‘âlamîn itu terwujud dalam realitas kehidupan tatkala Muhammad Rasulullah Saw mengimplementasikan seluruh risalah yang dia bawa sebagai rasul utusan Allah SWT. Lalu bagaimana jika Rasul telah wafat. Rahmat bagi seluruh alam itu akan muncul manakala kaum muslimin mengimplementasikan apa yang telah beliau bawa, yakni risalah syari’at Islam dengan sepenuh keyakinan dan pemahaman yang bersumber pada Al Qur’an dan As Sunnah. Manakala umat Islam telah jauh dari kedua sumber tersebut (beserta sumber hukum yang lahir dari keduanya berupa ijma’ sahabat dan qiyas syar’iyyah) dan telah hilang pemahamannya terhadap syari’at Islam, maka tidak mungin umat ini menjadi rahmat bagi seluruh alam, Justru dunia rugi lantaran kelemahan pemahaman kaum muslimin terhadap syariat Islam. Oleh kerena itu, berbagai upaya untuk menutupi syari at Islam dan upaya menghambat serta menentang diterapkannya syariat Islam pada hakikatnya adalah menutup diri dan mengahalangi rahmat bagi seluruh alam.

Maka dari itu, pentingnya semua elemen ummat ini mulai dari Ulama, intelektual, pengusaha, pemuda, mahasiswa dan pelajar untuk bersatu dalam rangka mewujudkan kebangkitan yang hakiki di bumi pertiwi ini. Kita harus bahu membahu mencerdaskan di tengah-tengah ummat untuk segera menerapkan aturan-aturan Islam dalam seluruh aspek kehidupan, karena hanya dengan Syariah Islamlah kita dapat lepas dari aturan-aturan penjajahan. Hanya dengan Syariah Islam pula kita bisa meraih kebangkitan yang hakiki. sehingga ketika Islam diterapkan akan terwujudlah Islam Rahmatan Lil ‘Alamin.

Wallahu a’lam bi ash-shawab. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *